Semenjak tahun baru hijriah, 1 Muharam beberapa bulan kemarin. Saya sudah menanggalkan celana ketat dan kerudung tipis nerawang. Saya ingin berhijrah. Sungguh! Apalagi media sedang hits memberitakan jilboobs. Ah saya tidak mau masuk pada golongan mereka yang seperti kaum jahiliyah. Selain itu sebenarnya alasan lain yang mendasari adalah saya sudah terlanjur tidak pacaran dari kecil. Bukankah tidak pacaran sudah merupakan kebanggaan dan sangat sulit dijalani mengingat pergaulan remaja jaman sekarang yang memprihatinkan?
Saya sudah terlanjur mempunyai prinsip itu, bahkan untuk dekat dengan laki-laki bukan muhrim saja enggan. Well walaupun waktu SMA saya juga pernah dekat dengan laki laki. Tapi itu semua karena saya belum begitu paham dan bersyukur karena saya belum pernah pacaran dengannya.
Kembali ke topik!
Saya tidak pacaran, saya tidak dekat dengan laki-laki. Tunggu apalagi? Tinggal menyempurnakan penampilan dengan hijab syar'i kemudian menyempurnakan agama. Itu saja bukan? Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhijab syar'i. Pelan-pelan.
Tapi tak semudah yang saya kira. Awalnya saya merasa malu karena kerap menjadi pusat perhatian teman saya karena penampilan baru saya. Untungnya teman yang sering bersama saya, Apri juga sudah mengenakan hijab syar'i duluan sehingga saya tidak begitu merasa malu.
Saya mulai kebingungan setelah beberapa hari mengenakan hijab syar'i ini. Pakaian yang saya punya tidak banyak apalagi sekarang pakaian ketat dan kurang pantas sudah ditanggalkan. Ah inilah cobaannya. Perlahan tapi pasti akhirnya mulai terbiasa dengan kesederhanaan yang semakin sederhana ini.
Beberapa bulan berlalu, saya kembali pulang ke rumah tercinta di Cirebon. Disini saya kembali mengalami kebingungan. Tidak menyalahkan siapapun, ibu saya (baca:mama) tidak seperti ibu kebanyakan yang mengenakan hijab jika keluar rumah. Mama hanya mengenakan hijab ketika kondangan. Sehingga karena mama tidak mengenakan hijab, bagaimana dengan saya? Masyarakat kampung pasti akan bilang. Anaknya udah pake jilbab ibunya belum. Saya tidak ingin keluarga menjadi pembicaraan tetangga. Akhirnya saya hanya mengenakah hijab ketika keluar dengan teman. Jika hanya ke warung atau ke rumah tetangga saya tidak mengenakan hijab, kalaupun mengenakan hijab tetapi tidak syar'i. Ah sungguh! Ini salah saya yang tidak berani. Saya seperti pecundang yang takut terhadap perkataan tetangga ketimbang takut terhadap Allah SWT.
Ternyata hijrah tak semudah yang kubayangkan bukan?
Tetapi aku selalu berdoa agar Mama mendapatkan hidayah dari Allah agar senantiasa menuruti perintah-Nya dengan cara berhijab.
Bukan menjelekkan Mama tapi sungguh ini bukan salah Mama, ini salahku yang tidak bisa berani. Bisa saja kan ketika aku berhijab Mama akan mengikuti? Next time ketika pulang saya akan mencoba berhijab dimanapun. InsyaAllah. ☺
Saya sudah terlanjur mempunyai prinsip itu, bahkan untuk dekat dengan laki-laki bukan muhrim saja enggan. Well walaupun waktu SMA saya juga pernah dekat dengan laki laki. Tapi itu semua karena saya belum begitu paham dan bersyukur karena saya belum pernah pacaran dengannya.
Kembali ke topik!
Saya tidak pacaran, saya tidak dekat dengan laki-laki. Tunggu apalagi? Tinggal menyempurnakan penampilan dengan hijab syar'i kemudian menyempurnakan agama. Itu saja bukan? Dan akhirnya saya memutuskan untuk berhijab syar'i. Pelan-pelan.
Tapi tak semudah yang saya kira. Awalnya saya merasa malu karena kerap menjadi pusat perhatian teman saya karena penampilan baru saya. Untungnya teman yang sering bersama saya, Apri juga sudah mengenakan hijab syar'i duluan sehingga saya tidak begitu merasa malu.
Saya mulai kebingungan setelah beberapa hari mengenakan hijab syar'i ini. Pakaian yang saya punya tidak banyak apalagi sekarang pakaian ketat dan kurang pantas sudah ditanggalkan. Ah inilah cobaannya. Perlahan tapi pasti akhirnya mulai terbiasa dengan kesederhanaan yang semakin sederhana ini.
Beberapa bulan berlalu, saya kembali pulang ke rumah tercinta di Cirebon. Disini saya kembali mengalami kebingungan. Tidak menyalahkan siapapun, ibu saya (baca:mama) tidak seperti ibu kebanyakan yang mengenakan hijab jika keluar rumah. Mama hanya mengenakan hijab ketika kondangan. Sehingga karena mama tidak mengenakan hijab, bagaimana dengan saya? Masyarakat kampung pasti akan bilang. Anaknya udah pake jilbab ibunya belum. Saya tidak ingin keluarga menjadi pembicaraan tetangga. Akhirnya saya hanya mengenakah hijab ketika keluar dengan teman. Jika hanya ke warung atau ke rumah tetangga saya tidak mengenakan hijab, kalaupun mengenakan hijab tetapi tidak syar'i. Ah sungguh! Ini salah saya yang tidak berani. Saya seperti pecundang yang takut terhadap perkataan tetangga ketimbang takut terhadap Allah SWT.
Ternyata hijrah tak semudah yang kubayangkan bukan?
Tetapi aku selalu berdoa agar Mama mendapatkan hidayah dari Allah agar senantiasa menuruti perintah-Nya dengan cara berhijab.
Bukan menjelekkan Mama tapi sungguh ini bukan salah Mama, ini salahku yang tidak bisa berani. Bisa saja kan ketika aku berhijab Mama akan mengikuti? Next time ketika pulang saya akan mencoba berhijab dimanapun. InsyaAllah. ☺



0 komentar:
Posting Komentar