Home » » Cerpen Lama

Cerpen Lama

Hi, aku punya cerpen lama. Entahlah cerpen jaman kapan, judulnya aja lupa hehe :D Yang jelas cerpen ini jelek banget, belum bakat kali yaa, sampe sekarang juga belum bakat. Kalo jelek jangan diketawain peliss. Ini cerpennya udah lama bgtbgt haha :D
Selamat membaca ;)





Pacaran. Mungkin hal itu sudah tidak asing bagi kalangan remaja seusiaku. Menjalin kasih dengan lawan jenis merupakan hal yang sudah wajar. Tapi berbeda denganku, dari aku lahir hingga usiaku yang kelima belas ini aku tak pernah merasakan yang namanya berpacaran, orangtuaku melarang untuk hal itu. Yeah mungkin untuk suka kepada lawan jenis sudah aku alami sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Namun untuk jatuh cinta aku baru merasakannya saat ini.
Aku jatuh cinta pada kakak kelasku, sekarang dia duduk di kelas sebelas. Entah kapan dan kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria yang benar-benar bukan impian, dia bisa dibilang bukan anak baik bahkan dia pernah menjadi seorang pecandu psikotropika sewaktu SMP, dia juga tidak lebih tinggi dari tubuh kurusku. Yups aku merupakan salah satu siswi yang cukup tinggi di sekolah, tinggiku 170 cm dan itu berarti lebih tinggi dari teman-temanku.
Setiap saat, orang yang selalu ku ingat adalah dia, Zimmy namanya. Saat malam hari, orang yang selalu hadir dalam imajinasi dan mimpiku adalah dia.
Seperti yang aku bilang, dimalam yang berbalutkan cahaya rembulan ini aku pun berimajinasi tentangnya, sesekali aku berfikir jika aku menulis semua imajainasiku atau bahkan mengapresiasikannya menjadi sebuah film, yeah yang aku harap akan menjadi box office, hehe. “Lagi-lagi aku berkhayal,” gumamku dalam hati.
Anganku melayang bersama imajinasiku untuk milikinya hingga aku terlelap dalam mimpiku.
Adzan shubuh berkumandang dan aku terbangun dari dunia yang semu itu. Aku bergegas untuk mandi, lalu menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah, setelah itu aku berangkat kesekolah,
“Aku berangkat mah.”
“Kamu tidak sarapan sayang ?.“
“Udah keburu-buru, Assalamualaikum.”
“Waalakumsalam,” jawab ibuku.
Aku langsung berangkat ke sekolah, salah satu sekolah yang ada dikota kecil namun sangat ramai ini. Untuk sampai kesekolah aku harus menggunakan jasa angkutan umum, dan hal itu sudah menjadi suatu yang biasa bagiku, menunggu angkot yang bersedia membawaku untuk menuntut ilmu.
Saat sampai di sekolah aku bertemu dengan pangeran yang sebenarnya bukan impianku, entahlah tapi aku jatuh cinta padanya bukan karena fisiknya tapi hatiku berkata itu. Saat aku melewatinya aku hanya menunduk tanpa kata, aku tak berani menatap wajahnya. Sedikitpun aku tak berani melakukan itu.
“Hai sinta,” sapa temanku saat aku berjalan melalui Zimmy.
“Hai,” balasku.
Lalu aku berjalan bersama Icha, dia teman sekelasku.
Aku merasakan Zimmy sedang menatapku, entah hanya sebuah perasaan atau tidak karena aku tak mau nenatapnya untuk memastikan hal itu.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku pun belajar selayaknya seorang pelajar, menuruti perintah para guru yang terkadang memberi tugas yang membuat pusing anak didiknya.Hari ini adalah hari sabtu, dan hari sabtu adalah hari latihanku, setelah pulang sekolah aku ikut latihan panjat dinding di sekolahku, aku ikut organisasi kepecintaalaman. Yah walaupun aku tidak terlalu jago dalam hal ini setidaknya aku belajar dan mencari pengalaman saja.
Zimmy juga mengikuti organisasi ini namun bukan berarti karena dia aku ikut ini, sebelum aku mengenal dan bisa jatuh cinta padanya, aku sudah tertarik dengan kegiatan yang ekstrim ini.
“Gimana persiapan buat diksar bulan depan,?” tanya salah satu senior saat aku dan yang lain sedang berkumpul tepat dibawah papan panjat kebanggaan kami.
“Aku siap kak, emang nanti disana kita ngapain aja?” kata Erna.
“Nanti kalian dilantik, materi yang udah diajarin bakal di praktekin dan diuji disana,” jawab Seniorku.
Aku hanya terdiam dengan memperhatikan mereka, sesekali pandanganku mencari sosok yang kuinginkan.
“Dia kemana ya?” tanyaku pada diri sendiri.
Sesaat setelah itu dia terlihat menghampiri kami yang sedang berkumpul. Aku masih tetap terdiam membisu dan detak jantungku kini berdetak lebih kencang.
“Lagi ngobrolin apa nih?,” tanya Zimmy.
“Masalah diksar,” jawab salah satu calon anggota.
Satu alasan yang membuatku selalu diam dan acuh padanya, karena aku takut terkesan agresive terhadapnya.
Setelah lama berbincang dan latihan, sekarang adalah waktunya pulang. Seperti kebiasaan sebagai calon angota, aku dan teman-temanku harus izin dan bersalaman dengan para senior. Saat tiba giliranku untuk bersalaman dengan Zimmy, aku sungguh malu dan salah tingkah. Tapi aku tetap mencoba tenang agar dia tidak curiga.
“Tenang Shinta, jangan buat dia tau kalo kau juga jatuh cinta padanya,” perintahku dalam hati.
Lalu aku bersalaman dengannya dengan salaman khas organisasi kami. Saat tanganku dan tangannya bersentuhan seakan-akan waktu berhenti untuk beberapa saat, aku memberikan sedikit senyuman padanya dan dia membalas itu.
“Hati-hati di jalan ya de,” katanya. Dia memanggilku dede karena aku adalah adik kelasnya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.Hari yang ditunggu pun tiba, setelah persiapan yang matang akhirnya kami berangkat diksar atau pendidikan dasar.
Jam satu siang aku berangkat dari rumah, aku telah mempersiapkan semua kebutuhanku untuk tiga hari kedepan tadi malam, aku berangkat diantar oleh ayahku kesekolah, jadi aku tak perlu repot-repot menunggu angkot. Setelah sampai disekolah kulihat teman-temanku telah sampai sebelumku. Mereka sedang duduk-duduk di sekretariat namun ada juga yang sedang membereskan ranselnya.
“Pelantikan ini sepertinya sudah benar-benar matang,” kataku.
Yah kelihatannya benar-benar matang karena kami sudah berlatih dengan berbagai materi selama enambulan lamanya.
“Kamu bawa apa aja Shinta? Ada yang ketinggalan?,” Tanya Erna, sobat karibku  di organisasi ini.
“Sudah lengkap semua, makanan, pakaian bahkan senterpun sudah aku bawa. Bagaimana dengan kamu?”
“Aku juga sudah lengkap semua,”
Para senior memanggil kami untuk upacara pelepasan oleh kepala sekolah, kami berbaris dengan mengenakan seragam hitam-hitam khas pecinta alam.
Setelah upacara pelepasan, kami bergegas memasuki mobil yang sudah di persiapkan para panitia.
“Buat calon anggota masuk ke mobil ini,” ucap Zimmy sambil berdiri di samping mobil itu.
Kami semua masuk kedalam mobil, para senior tidak menggunakan truk yang biasa dipakai para pecinta alam karena calon anggota tak sebanyak sekolah lain, hanya beberapa anak saja yang berminat mengikuti organisasi pecinta alam.
Aku senang, ternyata dia satu mobil denganku, jadi aku bisa memandang wajahnya walaupun secara sembunyi-sembunyi.
Didalam mobil aku berbincang dengan yang lain, banyak hal yang kami bicarakan selagi kulihat jalanan diluar  dan mengagumi ciptaan tuhan.
Zimmy mengintruksikan kami agar kami menjaga sikap saat di alam dan kami mengangguk iya.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya aku dan yang lain sampai. Kami turun dari mobil lalu berjalan menuju lokasi perkemahan, tempatnya cukup jauh dari penduduk dan keramaian.
“Jauh banget sih kak, capek tau,” keluh temanku.
“Kan kamu udah latian fisik selama ini, jadi nggak masalah kan?,” jawab Doni salah satu senior.
“Huh,” balasnya dengan kekesalan.
Seperti halnya temanku, aku juga merasa lelah namun aku tak mau menunjukan itu walau sesekali aku mengatakannya.
Wajar saja jika aku dan teman-temanku tidak kuat dengan perjalanan ini, bayangkan saja jika kau di posisiku atau teman-temanku yang kebanyakan adalah gadis yang masih manja dan ini adalah pengalam pertama. Kau harus berjalan jauh dengan membawa ransel berat berisikan banyak barang-barang yang kau butuhkan selama tiga hari kedepan. Itu hal yang sulit bagi kami dan mungkin saja kau.
Di perjalanan yang cukup terjal beberapa kali aku di tolong Zimmy, dia membantuku agar aku tidak terjatuh pada genangan air sungai yang kami lalui.
“Sini aku bantu.”
“Makasih banyak kak”
Setelah bersusah payah untuk sampai ketempat perkemahan, akhirnya aku sampai di tempat yang sangat indah dengan kesunyiannya. Kami disambut berbagai suara binatang yang sudah tidak di temukan lagi didaerah perkotaan.
“Waw keren,” kagumku.
“Iya keren banget. Like it,” balas Erna.
Aku beristirahat sejenak untuk menghilangkan letih selama diperjalanan. Tak berapa lama para calon anggota disuruh berkumpul beserta ranselnya.
Kami ditugaskan untuk membuat bivak, bivak adalah tenda yang terbuat dari apapun itu untuk tempat kita beristirahat dan tidur.
Aku membuat bivak dari jas hujan yang kubawa.
Saat aku membuat bivak untuk istirahatku nanti malam, hujan turun begitu lebat dan aku harus cepat-cepat menyelesaikannya.
 “Hujannya gede banget, cepetan bikin bivaknya yuk,” kataku.
Hal-hal yang harus di perhatikan saat kau membuat bivak adalah arah angin dan keadaan sekitar. Jika kau salah menentukan posisi bivak maka kau akan merasa dingin karena angin di daerah ini begitu kencang di tambah lagi hujan akan turun setiap saat.
Ketika selesai membuat bivak, kami di beri beberapa materi atau pengulasan materi yang sudah diajarkan setiap latihan.
Esok harinya aku dan calon anggota lain ditugaskan untuk menjadi tim SAR, lalu praktek  SURVIVAL atau bertahan hidup di alam hingga aku jatuh sakit karena tubuhku tak mampu lagi untuk menopang lelah selama diksar ini.
Zimmy menolongku saat aku sakit, dia benar-benar baik terhadapku dan dia selalu memperhatikan semua gerakku.
Setelah berbagai macam kegiatan selama tiga hari penuh itu akhirnya anggota pecinta alam pulang, pastinya dengan mengenakan slayer kebanggaan.
Kami pulang pada pergantian tahun, yups hari ini tahun baru 2010. pada malam pergantian itu kami bermalam di sekolah dan disitulah aku bercanda gurau dengan Zimmy dan yang lain. Walaupun aku sedang sakit tapi aku tetap bahagia karena aku telah resmi menjadi anggota, selain itu aku juga bisa dekat dengan orang yang aku sayang.Beberapa bulan setelah diksar dan aku naik kekelas sebelas, harapan yang Zimmy berikan terhadapku semakin banyak hingga aku benar-benar yakin dan percaya Zimmy akan selalu menjagaku. Dia selalu mengucapkan kata sayang padaku hingga aku sangat berharap padanya.
Namun semua itu menjadi sebuah harapan palsu. Dia yang selalu ada disampingku tiba-tiba menjauh. Seketika hidupku hancur karena sebuah cinta yang telah lama aku rasakan.
Dia mencintai orang lain, orang yang benar-benar tidak aku kenali sebelumnya.
“Kakak kok berubah. Kenapa?,” Tanyaku padanya
“Kakak jadian sama Nina de, jadi kakak harus focus sama dia,” balasnya.
“Tapi kan kak?,” aku terdiam sejenak “Dia-,” pembicaraanku terputus.
“Kakak nggak mungkin bisa sayang sama ade lagi, kakak udah punya pacar.”
Aku terdiam, lalu dia pergi meninggalkan aku sendirian. Dan pada saat itu juga airmataku menetes, berharap tak ada yang melihatku aku langsung mengusapnya dengan slayer yang ku dapatkan pada diksar itu.
Hari-hariku berubah menjadi suatu kehampaan tanpa kehadiran Zimmy yang selalu menyemangatiku.
Nilai-nilai mata pelajaranku hancur. Teman-teman dan guru heran dengan keadaanku saat ini.“Biarlah ini jadi rahasia,” gumamku.
Namun lama-kelamaan akhirnya aku menceritakan masalahku pada sobat karibku dikelas XI ini, Nissa namanya. “Yang bener aja kamu suka sama dia Shin?,” tanyanya heran.
“Iya aku juga nggak tau Nis, ini masih misteri,” jawabku dengan mata berkaca-kaca karena aku tak mampu menahan apa yang aku rasakan saat ini.
“Yaudah kamu coba lupain dia aja Shin, percuma kamu ngarepin cowok kaya gitu,” sarannya.
“Nggak segampang itu ngelupain orang yang pernah singgah di hati kita.”.
“Iya sih aku tau, aku juga pernah ngerasain itu.”
Aku dan Nissa sama-sama terdiam dalam keadaanku yang menangis.“Cakep sih temen kamu Shin?,” Tanya salah satu teman sekelasku saat melihat foto Dimas , salah satu siswa SMA di kota ini.
“Biasa aja.”
“Ya ampun Shinta, cowok seganteng itu kamu bilang biasa aja, kamu masih normal kan?.”
“Aku belum bisa ngebuka hati buat orang lain lagi.”
“Kenapa?.”
“Aku nggak bisa, perasaanku masih sama seprti dulu. Aku masih suka Zimmy,”
“Apa? Zimmy? Jadi selama ini orang yang kamu maksud adalah Zimmy?,” Tanya Tanti
“Iya,” jawabanku singkat karena aku tak mau dia tau apa masalahku.
Beberapa bulan selanjutnya aku mulai sadar bahwa Zimmy tak akan kembali, walau perasaanku masih yakin bahwa dia akan menjadi milikku.
“Percuma juga aku berharap dia kembali, mustahil,” aku mulai putus asa.
Perlahan aku mencoba membuka hatiku untuk Dimas, Dia baik terhadapku. Dia rajin dan pintar, dia tampan dan lebih tinggi dariku.
“Nggak malu-maluin kalo di ajak main,” ucapku tersenyum.
Setelah lama mengenal Dimas dan aku mencoba mencoba untuk dekat dengannya walaupun aku tak bisa mencintainya. Zimmy hadir kembali kekehidupanku. Dia hadir membawa cinta yang telah dia sia-siakan dulu.
“Aku sayang kamu de,” kata Zimmy.
Sesaat aku terdiam, mencoba mencari jawaban yang tepat.
“Kenapa dulu kakak ninggalin saya?.”
“Maafin kakak de, kakak tau kalo kakak salah.”
Aku kembali terdiam, begitupun dia juga ikut terdiam memandangku.
****
Malam ini aku memikirkan perkataan Zimmy yang benar-benar mengejutkanku. Fikiranku melayang ke masa lalu saat aku mengenalnya, saat aku tak mengerti dengan perasaanku dan saat dia meninggalkanku. Tanpa kusadari pipiku sudah terairi oleh airmata dan aku menangis dalam kesendirian di kamar kecilku.
“Siapa yang harus aku pilih?” tanya pada hati kecilku.
Aku masih mencintai Zimmy, namun disisi lainnya aku tak mau mengecewakan Dimas yang sudah benar-benar baik terhadapku, dia percaya bahwa aku akan sepenuh hati mencintainya.
Dalam kebimbanganku, Zimmy selalu hadir setiap saat, saat aku disekolah, saat aku sedih, saat aku butuh. Dia selalu mencoba agar aku kembali padanya.
“Aku akan selalu untukmu,” ucapnya padaku.
Semua pengorbanan Zimmy terhadapku membuat aku yakin kembali bahwa dia akan benar-benar untukku.Minngu yang cerah secerah perasaanku, hari ini aku pergi bersama Zimmy untuk menghilangkan penat satu minggu ini, dia benar-benar baik terhadapku, dia selalu melindungiku.
Dengan mengenakan baju putih favoritku dan celana jeans, aku pergi bersamanya tentunya orang tuaku tak mengetahui hal itu, mereka hanya mengira aku main kerumah temanku.
“Cantik, tapi sayang ketinggian,” candanya.
“Kakak kependekan,” balasku jail.
“Kan takdirnya de,” sambil merangkul pundakku seolah dia melindungiku.
“Makanya minum susu, biar cepet tinggi,” jawabku dengan jantung yang sungguh berdetak kencang karena sudah lama aku tak merasakan saat bersamanya lagi, saat itu juga seolah waktu berhenti.
“Udah susah de, pertumbuhannya udah mentok.”
“Hehe,” lalu aku tertawa kecil.
Aku benar-benar nyaman di sampingnya, aku benar-benar kembali jatuh cinta pada Zimmy yang sempat menghilang.
Dia sering menanyakan status kami, katanya apakah hanya sekedar teman saja? Aku hanya menjawab “Aku nggak bisa pacaran, orangtuaku enggak ngizinin.”
Sejujurnya aku juga ingin memiliki cowok yang aku cintai, tapi apa daya. Aku tak mau melanggar amanah orangtuaku.
Aku pernah bilang padanya “Kita temenan kak, tapi lebih. Oke,”.
Hubungan kami lebih dari teman biasa, kami saling mencintai satu sama lain walaupun terkadang sifatku yang masih kekanakan sering membuatnya jenuh.
“Dede jangan kaya anak kecil, dede kan udah SMA.”
“Iya kak, enggak kok.”
“Enggak gimananya? Hayo?,” diselingi canda.Lama setelah Zimmy selalu mengertiku, selalu ada untukku dan selalu membuatku bahagia. Tiba-tiba Dimas menuntutku, dia mengatakan bahwa aku menghianati cintanya. “Aku nggak ngerti maksud kamu,” kataku.
“Alah nggak usah pura-pura bego deh,” ucapnya yang membuatku terkejut.
“Aku nggak ngerti?,” Aku benar-benar tak mengerti apa yang Dimas katakana padaku, aku tidak pernah memberi harapan padanya.
Dimas pergi.
Tanpa aku sadari ternyata ada Zimmy, dari kejauhan dia melihatku berbincang dengan Dimas. Zimmy menghampiriku dan dia menanyakan siapa sebenarnya cowok tinggi dan tampan itu. “Bukan siap-siapa, Cuma temen.”
“Bener ya,” Zimmy adalah pencemburu berat, dia tidak suka dengan siapapun yang dekat denganku hingga terkadang membuatku terkekang.
Dua hari kemudian dia mencari tau tentang Dimas pada teman-temanku dan teman sekolah Dimas tanpa sepengetahuanku.
***
“Kakak ada dimana?,” kucoba mengiriminya SMS namun dia tak membalasnya. Pikiranku jadi tak karuan, aku sangat mencemaskannya, aku tak ingin hal buruk terjadi padanya.
Aku mencoba mengirimkan pesan itu kembali, namun tetap tak ada jawaban. Ku kirim lagi dan lagi dan akhirnya dia membalas pesanku.
“Saya sibuk, jangan ganggu saya!,” kalimat itu tertulis dalam ponselku.
“Kakak kenapa sih?,”
“Di bilangin jangan ganggu, nggak ngerti ya?!.”
Setelah lama aku tak menangis. Hari ini aku kembali menangis karenanya. Entah sebab apa yang membuatnya membenciku.
Pagi harinya ku coba kembali menanyakan kepada Zimmy, tapi jawaban yang dia balas adalah “Pikir aja sendiri,” dan aku kembali menangis hingga mata sipitku bengkak.
“Sebenarnya salahku apa?,” kalimat itu selalu kutanyakan pada hati kecilku dan pada akhirnya aku mengetahui penyebab dia menjauhiku setelah aku bertemu dengannya.
“Dede udah ngecewain kakak, dede udah ngehianatin cinta kakak,” ucapnya halus karena dia tak ingin aku menangis.
“Maksudnya?.”
“Dede berhubungan sama cowok yang waktu itu kan?,”
“Enggak!” jawabku sambil meneteskan air mata.
“Jangan bohong.”
“Aku nggak bohong kak, aku nggak pernah punya perasaan sama cowok itu,” aku sungguh-sungguh tidak pernah mencintai Dimas, cintaku pada Zimmy benar-benar tulus.
“Ya udahlah, lupain saya. Mulai sekarang kita cuma temen biasa dan nggak lebih,” katanya.Berbulan-bulan selanjutnya aku hidup dalam kesendirian penuh airmata, orang yang selalu kuingat adalah Zimmy, dialah satu-satunya orang yang membuatku nyaman setelah keluargaku.
Kini .aku hidup dalam keterpurukan yang mendalam, dia tak pernah lagi mengirimuku SMS untuk menanyakan keseharianku, dia tak lagi melihat dan mengomentari statusku di jejaring sosial. Dia kini menjauh dan menghilang. Yeah benar-benar jauh.
Aku bingung harus meminta bantuan kepada siapa saat aku susah? Malam-malamku kini menjadi kesedihan, detik-detik waktuku menjadi tak bebrarti tanpanya, dan semua nilai-nilai mata pelajaranku disekolah kembali berantakan.
Cintaku kini menjadi bayangan yang semu, hanya keyakinan yang membuatku masih bisa bertahan untuk hidup. Aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali dengan cintanya itu, tak peduli walaupun dia telah menyakiti perasaanku berkali-kali, aku akan tetap menunggunya entah sampai kapanpun itu. Aku benar-benar tulus mencintainya.
-----

0 komentar:

Posting Komentar

Jam

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cotton Candy - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger