Home » » Ketika IP Mengikis Harapan

Ketika IP Mengikis Harapan

Saat mulai memasuki masa perkuliahan, mimpiku adalah lulus dengan predikat cumlaude kemudian melanjutkan S2 keluar negeri dengan beasiswa dan mendapatkan pekerjaan atau bahkan membuat lapangan pekerjaan yang baik. Agar menjadi lulusan cumlaude, yang harus aku lakukan adalah belajar dengan giat bukan? Kurasa aku sudah melakukannya. Aku yang semasa SMA malas belajar bahkan saat menjelang ujian kini sudah tidak kulakukan.

Semester pertama aku amat sulit beradaptasi, tapi aku selalu yakin aku bisa. Aku selalu meyakini kalau aku pintar dan setidaknya aku beruntung. Selalu begitu walau aku sering kesulitan mengikuti pelajaran. Aku coba dan coba, aku yakin bisa.

Tapi dalam kenyataan, aku tidak (re:belum) bisa . Setelah satu semester berlalu dan lihatlah nilaiku. Indeks prestasiku. aku benar-benar tidak (re:belum) bisa. Aku mengutuk diriku, aku menyalahkan apapun yang ada dalam diriku. Aku merasa bodoh. Terus begitu dan begitu.

Walaupun begitu, sungguh aku tidak mudah menyerah, aku yakin Tuhan akan memberikan aku yang terbaik. Di hari berikutnya aku yakin akan meraih kemenangan. Aku yakin.

Semester dua menyapa ketika aku dalam duka, duka karena nilaiku. Kemudian dia berlalu, berlalu meninggalkanku dengan duka pula. Nilaiku lebih baik, akan tetapi masih jauh dari harapan. Bagaimana aku bisa cumlaude? Ahh! IP berhasil mengikis harapanku.

Jika aku tidak cumlaude, bagaimana dengan harapanku untuk mendapatkan beasiswa keluar negeri? Akankan harapanku itu terkikis dan hilang? Ketika aku bahkan tidak bisa mendapat nilai yang baik, akankah orang-orang percaya padaku bahwa aku pintar dan berhak mendapat beasiswa S2 keluar negeri? Sedikit mestahil.

Kini, IP sudah mengikis harapanku sedikit demi sedikit, tapi aku masih punya harapan yang lain. Aku akan berusaha mencari cara lain. Harapanku masih ada, harapanku akan tetap hidup dalam hati dan pikiranku. Aku percaya.

IP berhasil membuatku menangis di dua semester kemarin dan aku sangat berharap kau tidak membuatku menangis (lagi) di semester ini, aku yakin kamu telah Tuhan takdirkan untuk membuatku tersenyum. Kau tau, ketika kau menyapaku dengan baik, yang  bangga bukan sekedar aku, tapi orangtuaku dan banyak orang yang lain, bahkan bangsa ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Jam

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cotton Candy - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger